INDONESIA 71, KERJA NYATA! #ThePowerofMedia

Hello dunia!

Hari ini yang bertepatan dengan 17 Agustus, tentunya seperti tahun lalu, aku akan membahas suatu topik yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia.
Sedikit berbeda dengan tahun lalu (bisa dilihat di sini), kali ini aku menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Jadi, saya minta maaf untuk pembaca yang tidak mengerti bahasa Indonesia. #ProudtobeIndonesian #SayaOrangIndonesia

Berkali-kali, banyak orang Indonesia yang menggunakan bahasa inggris (saya), ataupun situasi dan kondisi di mana mereka menetap di luar negeri ataupun mengkonsumsi budaya luar dan diadopsi di Indonesia.
Dan apa yang mengejutkan atau tidak sama sekali adalah, banyak orang Indonesia (khususnya yang kurang mengerti situasi dan kondisi) mengartikan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan identitas Bhinekka Tunggal Ika-nya atau tidak cinta tanah air.
Padahal terkadang, mereka melakukan hal itu dikarenakan pengaruh dunia yang semakin berjalan cepat (terima kasih internet), ataupun keperluan yang memang mengkondisikan hal tersebut dan kita tidak dapat melakukan hal apapun untuk itu.

Berbicara mengenai politik (yang sebenarnya saya sangat tidak tertarik),
baru-baru ini kasus ‘passport’ Amerika yang dimiliki oleh Menteri ESDM Arcandra yang baru menjadi topik permasalahan bahwa beliau ‘seharusnya’ tidak bisa menjabat menjadi seorang menteri dan harus mempertanggungjawabkan masalah ini.  #MediaBermain
Secara logika jika kita berpikir dengan baik, tentunya dalam pemilihan dan penyeleksian seorang menteri pasti akan dicek kebenarannya secara mendetail surat dan dokumen yang diperlukan.
Dan bagaimana bisa hal ini tiba-tiba mencuat ke permukaan tanpa tahu asal muasal dan langsung menembak begitu saja?

archandra.png

Iya, media sering bermain dengan judul yang menarik perhatian.
Dan masyarakat yang sangat mudah memakan umpan dari media itu sendirilah yang akhirnya membuat hal tersebut menjadi masalah.
Pada akhirnya, 2 hari sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia sendiri, menteri ESDM Arcandra dengan ‘hormat’ diberhentikan oleh presiden Jokowi guna menghindari masyarakat yang mudah goyah tersebut. #IDN71

Secara pribadi, hal ini tidak dapat dipungkiri dan tidak dapat menyalahkan media.
Memang idealnya media harus memberikan informasi yang ‘jelas dan tidak berpihak’.
Akan tetapi, media di Indonesia kebanyakan telah dipengaruhi oleh kepentingan pemilik media itu sendiri.
Jika pun mereka (media) ingin mencoba mempublikasikan berita yang ‘jelas’, selalu ada yang namanya ‘atasan’ adalah raja dak karyawan harus menjalankan perintah dari kekuasaan tersebut.
Bukannya menjelek-jelekkan media (karna saya sendiri adalah orang media), akan tetapi pada dasarnya Indonesia seringkali menganut kebiasaan ‘bermuka dua’ ataupun ‘menjilat sikut bos’ #ThePowerofMedia

Bahkan, orang-orang pintar seperti ibu Risma (Wali kota Surabaya) dan bapak Ahok (Gubernur DKI) dengan mudah dimainkan oleh media.
Keduanya adalah pemimpin yang memiliki karakter dan cara kepemimpinan yang berbeda.
Keduanya adalah pemimpin yang disegani masyarakat.
Keduanya adalah pemimpin yang berani mengambil resiko dan memajukan daerah yang dipimpin.
Dan keduanya adalah pemimpin yang memiliki pro dan kontra kemanapun mereka beraktivitas.

Hal yang terjadi adalah, keduanya berhasil dimainkan oleh media, dengan judul besar yang kontroversial dan keduanya saling menyerang lewat media itu sendiri.
#MediaBerkuasa
Padahal, maksud dari perkataan keduanya adalah benar (dalam artian kerja yang benar) dan nyata.
Akan tetapi, media berhasil merangkai perkataan atau pernyataan mereka dengan baik sebagai material ‘berita’.
Kedua pemimpin mengkonsumsi ‘berita’ tersebut, pendukung kedua pemimpin mengkonsumsi ‘berita’ tersebut dan pada akhirnya mereka bagaikan selebriti yang saling menyerang lewat media.

Semakin bertambah umur, Indonesia juga semakin mengalami rintangan dan ujian yang banyak dikerjakan.
Bertambah umur bukan berarti kemajuan adalah yang diharapkan (memang sangat diharapkan), akan tetapi bertambah pula tanggung jawab dan masalah.
Dengan 71 tahun Indonesia, diharapkan Indonesia dapat ‘bekerja sama’ dan saling ‘membantu’ untuk kemajuan negeri dan mengatasi permasalahan negeri.
Permasalahan tersebut tidak harus permasalahan besar, dapat dimulai dari diri sendiri.
Menghargai diri sendiri, membuang sampah pada tempatnya?
Atau dengan membayar pajak.

Terkadang hal sederhana tersebut adalah sesuatu yang mencitrakan kita adalah orang Indonesia yang cinta Indonesia.
Jadi, MARI KERJA, INDONESIA 71 TAHUN, KERJA NYATA.

Sampai jumpa dengan blog selanjutnya! 🙂

One thought on “INDONESIA 71, KERJA NYATA! #ThePowerofMedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s