KETIKA KASUS MENGENAI ANAK MENJADI VIRAL INDONESIA

Hello dunia!

Kembali lagi dengan tulisan Indonesia yang berarti permasalahan dan topik yang membahas permasalahan atau sebuah isu yang ada Indonesia.
Setelah beberapa minggu lalu, dunia dikejutkan oleh foto viral Omran Daqneesh yang merupakan anak berusia lima tahun yang menjadi korban dari sengketa peperangan yang berkepanjangan, kini hal miris lainnya mencuat dan menarik perhatian saya.

Berita mengenai ‘Prostitusi Anak untuk Kaum Gay‘, adalah hal yang sangat tidak wajar di Indonesia dan menggemparkan.

Kenapa?

Alasan pertama dan sederhana adalah Indonesia merupakan negara kesatuan yang berlandaskan AGAMA.
Di mana AGAMA dan NILAI BUDAYA merupakan acuan dan fondasi hidup dalam beretika, bertutur, dan bertindak.

Bisa dibilang, sejauh 2015 hingga 2016 ini, kasus yang berhubungan dengan anak adalah hal menarik untuk diperbincangkan dan dijadikan ladang penghasilan berita bagi media.
Dari kasus pembunuhan Angelin, pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap siswi SMP, Sodomi dan pedofilia, hingga prostitusi anak untuk kaum gay, menunjukkan apakah yang sebenarnya terjadi di Indonesia?

Setiap ada 1 berita yang muncul mengenai anak, maka berita mengenai anak lainnya akan menjadi viral dan ramai untuk diperbincangkan.
Dari hal yang ramai ini, barulah aparat keamanan mencari kasus yang sama untuk diselidiki.
Setelah mendapatkan banyak laporan dan data yang ada, barulah pemerintah menegaskan dan memberikan ultimatum.
Setelah ultimatum diberikan, barulah dibuat UU yang melindungi anak-anak Indonesia.
Setelah UU anak diajukan, barulah melakukan revisi terhadap UU yang lama dan perubahan RUU baru mengenai anak-anak,
dan begitulah seterusnya.

Seakan, berita viral mengenai anak adalah roda yang akan berputar seperti itu terus hingga berita tersebut pada akhirnya padam dan digantikan oleh permasalahan baru yang akhirnya menarik perhatian masyarakat lagi.

Hal ini tidak akan selesai, jika kita (masyarakat dan pemerintah) tidak menindaklanjuti secara tegas dan tuntas dalam permasalahan tersebut.
Bahkan, sejauh ini bagaimana dengan perkembangan kasus pembunuhan Angelin?
Apa yang terjadi dengan para tersangka pembunuhan, kekerasan seksual, pedofilia terhadap anak?
Apakah hukum kebiri itu telah terlaksana?
Atau apakah hukuman mati atau seumur hidup yang menggantikannya?

Berbeda jauh dengan kasus narkoba yang sekali didapat langsung dihukum mati, yang padahal narkoba hanyalah mematikan para pengguna dan interaksi antar pengguna.
Akan tetapi berbeda dengan mereka anak-anak.

Mereka harus mengalami trauma akan kejadian yang tidak pernah mereka bayangkan sedikitpun,
Masa depan bangsa harus direnggut oleh orang-orang yang tak bisa menahan diri dan menjadi ‘monster‘ dalam hidup seorang anak. Bahkan untuk usia seperti itu?
Seks atau melakukan hubungan intim bukanlah sesuatu yang ada dipikiran mereka.
Akan tetapi, orang dewasa dan media (dalam hal ini internet. SELAMAT DATANG DI ERA MILENUIUM, DIMANA INFORMASI SANGAT MUDAH DIAKSES DIMANA SAJA, KAPAN SAJA, DAN OLEH SIAPA SAJA) yang menanamkan hal tersebut pada mereka.

Orang dewasa dengan mudah mempengaruhi mereka dengan iming-iming uang dan materi yang sedang menjadi tren saat ini.
Dan yang tak habis pikir, korban prostitusi ini adalah remaja.
Bisa dikatakan pula bahwa mereka bukanlah korban.

Kenapa tidak?

tumblr_static_filename_640_v2

Karna mereka sendiri memiliki dorongan untuk melakukan hal tersebut.
Walau memang awalnya mereka tidak mau, akan tetapi ketika mereka sendiri menerima imbalan (berupa uang dan materi), yang berarti mereka adalah tersangka.
Bandingkanlah dengan prostitusi dewasa (wanita), yang jika kedapatan maka mereka akan dicap sebagai wanita yang tidak pantas dan bahkan akan ditangkap oleh polisi.
Berbeda dengan prostitusi anak yang mereka dianggap sebagai ‘korban‘ akan direhabilitasi dan dijaga.
Yang padahal, aktivtias yang mereka lakukan adalah SAMA.
Hal yang membedakan adalah UMUR dan PEMBELI mereka.

Jika dikaitkan dengan agama dan nilai, keduanya adalah salah dan tidak ada yang benar.

Ketika para aparat keamanan, para ahli, pemuka agama, publik figur memberikan opini dan menyalahkan mochikari tersebut,
Seharusnya kita dapat melihat dari perspektif berbeda selain fokus pada permasalahan yang dilakukan oleh mochikari.
Remaja tersebut bisa dibilang korban dan bisa juga tidak.
Karna tadi, ketika mereka menerima imbalan bayaran, mereka melakukannya dengan kemauan.
Tidak pernah dijelaskan bahwa mereka dipaksa, akan tetapi hanyalah sebuah iming-iming atau bisa dibilang proses negosiasi yang dilakukan oleh mochikari terhadap ‘karyawannya’.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Jujur, sebagai salah satu anggota masyarakat awam, saya hanya bisa memberikan pandangan.
Pandangan saya adalah kedua belah pihak adalah salah.
Baik mochikari ataupun anak-anak.
Selain itu, pemerintah dan masyarakat juga adalah salah.
Salah kita yang tidak berani memberikan pendidikan seks secara dini yang terlalu mengkhawatirkan nilai-nilai, yang pada akhirnya nilai-nilai tersebut tidak pernah dipegang.
Salah kita yang tidak pernah menuntaskan semua permasalahan dengan benar, yang hanya melakukannya ketika sedang menjadi sorotan utama dan kemudian dibiarkan ketika sorotan itu memudar.
Salah kita yang tidak mau menjaga, melapor, dan bertindak ketika kita sendiri adalah korban atau saksi dari itu semua karna takut menjadi bahan perbincangan masyarakat sekitar kita.

Katanya hukum adalah sama bagi semua pelanggar hukum.
Alangkah baiknya jika hal tersebut dapat dibuktikan.
Penggunaan media sosial makin lama menjadi tidak terbendung.
Dalam hal ini, kebebasan pengguna melakukan apa saja adalah hal yang lumrah, akan tetapi kebijaksanaan pengguna adalah hal yang harus dipertanyakan.
Pantas atau tidak pantas memberikan postingan tersebut adalah tergantung sudut pandang orang.
Akan tetapi, situasi dan kondisi seharusnya bisa dimengerti.

Bukan hanya pengunaan sosial media sebagai lahan prostitusi saja yang harus diselesaikan,
alangkah baiknya jika aparat keamanan dapat menuntaskan postingan atau akun sosial media sosial yang berisi konten SARA.
Banyaknya pemakaian judul HOAX atau CLICK BAIT dan bahkan HATRED POSTING, hampir tidak pernah dilirik oleh aparat keamanan.
Berbeda ketika adanya postingan atau media sosial yang berisikan penghinaan terhadap pejabat negara yang langsung dilaporkan dan ditindaklanjuti.
Kembali lagi ke konsep, “Katanya hukum adalah sama bagi semua pelanggar hukum”.

Ibarat sebuah koin,
internet memiliki 2 sisi di mana di satu sisi internet membantu mempermudah aktivitas manusia, dan di sisi lain internet membantu mempermudah mengakses informasi secara berlebihan.

See ya with another post! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s